Ulang Tahun Ke-2

October 29th, 2006 by nulie

Ulang tahun kedua
Adik kecilku
Ulang tahun kedua
Dia Beranjak Besar

    Adik Kecilku
    Kini kau tidak minum susu
    Yang setiap hari
    Dulu ia meminumnya

        Meninggalkan masa bayi
        Memasuki masa balita
        Tinggalkan tangis
        Munculkan kata-kata

Puisi karya Hanani Marha Luthfine, dipersembahkan untuk si adik kecil yang baru berusia dua tahun ketika kalender menginjak angka 18 september 2006.

Ternyata Hana juga memberi hadiah puisi buat adiknya yang tak kalah bagusnya dengan puisi yang dibuat untuk saya.

Hadiah Ulang Tahun Terhebat dari Anakku

September 27th, 2006 by nulie

Diantara sekian banyak hadiah ulang tahun, yang aku anggap paling berkesan adalah sebuah puisi dari Hana, anak cantikku yang sekarang sudah kelas 1 smp. Puisi ini ia buat sehari sebelum hari ulang tahunku.

Ini dia:

Ayah.

Ayah…
Ketika aku di sisimu
Kurasakan kebahagiaan
Mengalir dalam diriku

    Ayah…
    Kasih yang kau beri
    Sayang yang kau tumpahkan
    dan senyum yang kau berikan..

        Ayah…
        Jangan kau tinggalkan aku
        Sebelum lenyapnya sinar mentari
        Untuk selamanya

            Ayah…
            Jasamu sangat berarti
            Usahamu tiada henti
            Hasilmu tidak sia-sia

                Ayah…
                Kau beri kehangatan
                Kau berikan cahaya
                Untuk keluarga

                    Ayah…
                    Setiap hari kau menafkahiku
                    Setiap hari kau temani langkahku
                    Terima kasih ayah….

Sabtu, 23 September 2006

Bebek Terakhir

September 25th, 2005 by nulie

Lebih dari tiga tahun saya pelihara bebek Bali dan bebek Peking. Hanya beli masing-masing sepasang, dalam tempo tidak lama bisa berkembang biak. Caranya? Saya tidak repot-repot beli mesin penetas telor seperti para petani bebek. Ingat lho: bebek tidak mau mengerami telurnya, jadi mesti ada campur tangan manusia.

Bebekterakhir Nah, saya menggunakan cara yang sederhana sekali dan alami: titipkan telur-telur bebek baru ke ayam yang sedang mengeram. Begitulah yang saya lalukan. Makanya saya sering menyaksikan ayam yang bengong ketika melihat ada telur yang ukurannya 2-3 telornya di eraman. Begitu juga tampang mereka yang culun ketika telur menetas dan yang muncul adalah anak bebek, yang cucuknya nggak seperti ayam, dan suaranya aneh bagi ayam. He he.. tapi mereka tetap mengadopsinya sebagai anak dengan penuh kasih sayang.

Untuk pencegahan penyebaran flu burung yang sudah sampai ke kebon binatang Ragunan, unggas di rumah saya habisi satu per satu. Untunnya bebek-bebek sudah saya potong secara rutin untuk konsumsi. Pas hari ulang tahun Lala 18 september lalu, saya potong lagi. Sabtu lalu, pas ulang tahun saya, generasi terakhir bebek saya potong juga.Bebekterakhir1

Ah, tadi pagi sudah tidak ada suara wek-wek bebek yang rutin menyambut subuh setiap hari……

Ke Jerman Dibekali CelDam

September 8th, 2005 by nulie

Farawell_dendy2 Salah satu Virtualers, akhirnya akan berangkat ke Jerman pekan depan, untuk menuntut ilmu. Dendy, web designer andalan Virtual, mendapatkan beasiswa untuk mengambil studi Digital Media di Bremen, Jerman.

Cowo yang akrab dipanggil "Bibir" oleh VirtualGirls, mendapat kejutan istimewa ketika pamitan selepas Jumatan tadi. Ternyata para VirtualGirls memberi hadiah unik: kaos kaki, T-shirt lengan panjang dan……celana dalam!

Farawell_dendy_cd_1 Saksikan wajah anehnya ketika membuka kado.

Selamat belajar Den. Semoga sukses selalu.

Ini Dia Kantor Baru VC

September 2nd, 2005 by nulie

New_off_vc Kantor baru Virtual Consulting kini lebih lega, nyaman dan manusiawi. Warna coklat kayu mendominasi nuansa ruangan. Meja kursi tradisional Betawi pun menghiasi ruangan tamu. Ini membuat suasana kantor seperti suasana rumah. Tentu saja kantor ini jadi terlihat lain di tengah perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang mendominasi Gedung Cyber ini. "Homey" kata seorang teman yang ikut acara sukuran pindahan kantor.

Newoffice Kesan kayu itu sesungguhnya tidak sepenuhnya dominan. Saya memadukan warna list perak — sebuah warna yang sebenarnya tidak cocok jika dipadukan dengan warna coklat — agar kelihatan lebih modern. Agak mengherankan, ternyata paduan itu cocok. Silahkan mampir dan lihat sendiri kalau memang penasaran.

Hijrah

September 2nd, 2005 by nulie

Biasanya saya paling kesal dengan liburan “hari kejepit” seperti Kamis atau Senin. Liburan semacam ini adalah liburan yang tidak produktif untuk pekerjaan. Namun, khusus untuk liburan Isra’ Mi’raj Kamis ini, saya sama sekali tidak keberatan meski ada deadline projek yang harus live Senin tgl 5 September nanti. Pekerjaan itu, bagaimana pun juga, masih bisa dikelola dengan baik secara online, tanpa harus datang ke kantor.

Isra’ Mi’raj kali ini boleh dibilang istimewa karena beberapa hal.
Pertama, empat hari lalu, Senin 29 Agustus, kantor pindah ke ruang sebelah di gedung yang sama. Pindahan kantor adalah hal biasa. Namun, pindahan kali ini bermakna dalam. Tepat 2,5 tahun bisnis ini saya geluti, kantor bisa pindah ke ruang yang luasnya 2,5 kali lipat. Artinya, bisnis berkembang baik di tahun ini dan perusahaan memiliki arus kas yang baik untuk investasi perluasan kantor, yang memakan biaya tidak sedikit.

Dalam bahasa sok serius, perusahaan melakukan “hijrah” memasuki tahun yang lebih baik, namun sekaligus membuka tantangan baru untuk berkembang lebih baik lagi. Ruangan yang lebih lapang, nyaman, manusiawi, akan membuat suasana kerja lebih baik. Namun pada saat yang sama, biaya operasional juga naik. Ini yang akan mendorong “hijrah” berikutnya untuk meningkatkan kinerja perusahaan agar mampu memberikan nilai (value) yang lebih baik lagi ke seluruh stake holder perusahaan, termasuk karyawan, klien, mitra bisnis serta pemilik perusahaan.

Kedua, secara pribadi, saya merasa ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam diri saya sendiri. Di hari Isra’ Mi’raj ini saya memutuskan untuk melakukan “hijrah” pribadi yang kalau dijalankan dengan benar dan konsisten akan memperbaiki kualitas personal saya sendiri. Hijrah seperti apa itu biarlah saya simpan untuk saya sendiri, meski sudah saya bisikan ke istri tercinta.

Hari ini saya mendengar banyak suara orang yang melantunkan ayat-ayat suci di masjid depan rumah. Hari ini pula, ketika banyak kaum muslim memperingati Isra’ Mi’raj, saya mencoba melakukan dua hijrah kecil di atas.

Tiga Hal Menggetarkan dari Steve Jobs

June 30th, 2005 by nulie

Kalau suka menonton film animasi seperti Toy Story, a Bugs Life, Finding Nemo, Monster Inc, dan The Incredible, Anda pasti tahu Pixar — perusahaan animasi yang membidani film-film animasi tersebut. Kalau suka dengan dunia desain dan pengguna Mac, Anda pasti kenal Steve Jobs, sang perintis Apple Macitosh.

Steve Jobs merupakan fenomena entrepenuer dunia, yang mengalami perjalanan bisnis dan hidup yang luar biasa. Ia mendirikan Apple Computer, namun kemudian ditendang dari kursi CEO oleh Dewan Direksi. Sungguh pahit rasanya jika kita melahirkan sesuatu kemudian kita dipisahkan darinya. Namun ia bangkit dan membalikkan situasi. Ia membangun NEXT, yang kemudian disusul dengan perusahaan lain yakni Pixar yang melahirkan film animasi komputer pertama di dunia. Ia akhirnya berhasil kembali ke Apple melalui melalui proses akuisisi Apple terhadap Next. Kini Apple menggegerkan dunia dengan inovasi iPod yang mengalahkan kepoluleran Walkman Sony.

Ketika lahir, ibunya memutuskan untuk menyerahkannya ke orang lain. Ia tak pernah lulus kuliah. Ia pun pernah divonis mati karena kanker pankreas. Namun ia bisa melewati semua itu dengan baik.

Ketika diundang ke Universitas Stanford, Steve Jobs memberikan pidato yang sangat luar biasa mengenai tiga hal. Dengan bahasa yang indah, lembut, terstruktur, penuh dengan kedalaman filosofi namun mencuatkan semangat hidup, ia menginspirasi banyak mahasiswa di sana.

Saya takut menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia karena sangat berpotensi mengerdilkan suasana batin Steve Jobs saat menulis ini.

Berikut ini saya kutipkan penuh pidatonya.

Semoga bermanfaat.

Steve Jobs’ Convocation Speech (Stanford)
Monday, June 20, 2005 17:53
This is the text of the Commencement address by Steve
Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation
Studios, delivered on June 12, 2005.

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation.
Today I want to tell you three stories from my life.
That’s it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5? deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was
beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky ? I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me ? I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I retuned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance.
And Laurene and I have a wonderful family together.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.

This was the closest I’ve been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma - which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960’s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry - Stay Foolish.

Thank you all very much.

Link:
http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html

The journey of a thousand miles begins with a single step

June 30th, 2005 by nulie

Tiga bulan lalu, dua anak muda dengan penuh semangat menceritakan ide bisnisnya sambil nyruput teh poci di rumah.

Saya mendengarkan dengan seksama, melakukan banyak klarifikasi dan diskusi. Pada akhirnya saya mengakui bahwa ide bisnisnya original dan layak untuk dijalankan.

Ketika mereka pamit untuk pulang, saya cuma memberikan pesan agar gagasan tersebut segera dieksekusi sebelum semangat dan hasrat mereka berdua menurun, luluh oleh waktu.

Tiga bulan lewat tanpa kabar.

Tadi pagi saya melihat sesuatu yang mirip dengan gagasan mereka itu dijalankan di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Saya amat yakin, itu bukan hasil kerja mereka.

Saat itu juga saya sms kedua anak muda itu. Inilah jawaban mereka: "Oh iya, saya tahu itu, tapi ide kami lebih bagus lagi dan sedikit berbeda".

Saya tercenung dengan jawaban itu. Beberapa saat kemudian saya menjawab seperti ini: "Bisa jadi betul. Namun yang kamu lakukan baru sebatas ide. Bisnis itu juga meliputi kecepatan mengambil keputusan dan keberanian mengambil langkah pertama".

Ia menjawab: "Mber" Maksudnya ember yang dalam bahasa gaul berarti "memang".

Saya memang jarang menemukan orang yang memiliki gagasan brilian dan layak dieksekusi secara bisnis. Namun, saya lebih jarang lagi melihat orang yang memiliki ide namun sekaligus memiliki kecepatan dalam pengambilan keputusan serta keberanian dalam mengayun langkah pertama.

Perbedaan antara gagasan dan ayunan langkah kelihatannya tak seberapa. Namun perbedaan akhirnya akan sangat luar biasa. Yang bergelut terus dengan gagasan atau wacana akhirnya bergerak di tempat. Yang berani mengayun langkah pertama akan membuka peluang untuk meraih hasil yang lebih tinggi nilainya.

Sudah banyak yang paham kalimat ini: "The journey of a thousand miles begins with a single step". Tetapi hanya sedikit yang mempraktekkannya.

Menjadi Wirausahawan, Siapa Takut?

April 5th, 2005 by nulie

Pengusaha_swa_nukman "Pertaruhan terbesar dalam hidup adalah ketika saya memutuskan menjadi wirausahawan.? Itulah sebaris kalimat yang berkecamuk di benak seorang eksekutif perusahaan ketika memutuskan pindah kuadran menjadi wirausahawan (entrepreneur)."

Berlebihan? Tidak. Bertahun-tahun membangun karier di jalur profesional, merintis dari posisi terendah hingga mampu menembus level direksi, membuat sebagian besar kita merasakan nyamannya posisi ini sehingga enggan melepaskannya. Gaji dan tunjangan yang berkecukupan. Jaringan bisnis yang terbangun lumayan luas. Nama besar yang mengikuti jabatan di perusahaan terpandang.

Siapa yang mau kehilangan sederetan kenikmatan langka itu untuk memasuki dunia baru yang penuh tantangan? Dunia yang penuh risiko — bisa meludeskan modal yang kita tabung bertahun-tahun dan memudarkan nama kita yang sebelumnya lumayan terpandang.

Johannes Kotjo dan Judiono Tosin, misalnya, amat mengilat karier dan namanya sebagai eksekutif puncak Grup Salim pada tahun 1980-an. Ketika keluar dari konglomerasi terbesar Indonesia yang masih dikomandoi Om Liem saat itu danmembangun bisnis sendiri, mereka sempat menjadi ikon eksekutif yang berani pindah kuadran. Namun, tak berapa lama nama dan bisnis mereka pudar.

Meski demikian, dunia kewirausahaan sepertinya tak mengenal trauma. Ada saja eksekutif yang berani terjun ke dunia usaha. Ira Koesno, presenter kondang SCTV, seperti ditulis dalam Sajian Utama SWA, berani melangkah ke dunia itu. Begitu pula kawula muda lain yang sebelumnya memiliki posisi lumayan bagus di perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya. Saya sendiri setelah berolah pikir cukup lama akhirnya berani meninggalkan posisi direktur di Agrakom dan Detikcom — portal nomor wahid yang menjadi fenomena bisnis Internet di Indonesia karena mampu menjadi yang terbesar, baik dari sisi pengakses maupun iklan yang berhasil didulang di dunia maya.

Langkah para eksekutif muda (umur 30-40 tahun) memasuki dunia wirausaha saya lihat sebagai langkah unik jika melihat tingkat retensinya. Bagi mereka yang sejak lahir sudah tercetak menjadi wirausahawan karena keturunan, seperti para pedagang, serta pebisnis warung Tegal dan Padang, dunia usaha bukanlah hal yang aneh. Biasanya mereka menerjuni bisnis ini sejak kecil dengan membantu orang tua atau kerabatnya. Di kemudian hari mengambil alih atau mengembangkan bisnis serupa di tempat lain. Tipe ini nyaris tidak memerlukan pendidikan tinggi dan tidak memiliki retensi untuk menjadi wirausahawan.

Agak berbeda kasusnya dengan mereka yang mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari lulusan universitas cenderung menjadi eksekutif perusahaan. Hanya segelintir yang berani langsung membuka usaha sendiri begitu selesai wisuda.

Orang yang terbiasa menjadi eksekutif biasanya memiliki retensi besar untuk membangun usaha mandiri. Mereka yang sukses di jalur ini kebanyakan setia pada jalurnya. Jadi, kalau memang ada segelintir yang berani pindah jalur, ini layak dicatat.

Mereka yang pindah kuadran ini di atas kertas sebenarnya memiliki peluang sukses cukup besar. Alasan utamanya, mereka yang pernah mencicipi posisi eksekutif puncak pasti sudah terlatih jiwa kewirausahaannya di dalam perusahaan (intrapreneurship).

Pekerjaan manajerial memang tergolong penghindar dan penekan risiko (risk aversive and risk minimalist). Namun, semakin tinggi posisi manajerial seseorang, semakin pekat pekerjaan yang berbau wirausaha, yang bersifat menentang risiko (risk taker). Tanggung jawab manajemen puncak untuk membuka pasar baru, membuat produk baru, membuka unit bisnis baru, serta meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan adalah tanggung jawab yang pekat dengan jiwa kewirausahaan. Artinya, jiwa kewirausahaan mereka sudah terasah.

Alasan lain, nama mereka sudah cukup terpandang dan jaringan bisnisnya sudah lumayan luas sesuai dengan kehebatan perusahaan yang dikelolanya. Ini bisa menjadi modal awal yang sangat bagus untuk membangun bisnis baru.

Namun, yang indah di atas kertas memang lain dari di dunia nyata. Dengan wadah usaha baru, jalan untuk menembus proyek dan mendapatkan revenue jadi semakin berat. Memangnya mudah kita mengikuti tender betulan dengan perusahaan seumur jagung yang minim portofolio bisnis? Pengalaman profesional yang jika ditulis bisa berlembar-lembar ternyata tidak bisa begitu saja ditransfer dalam bisnis baru. Wirausahawan baru pun, dalam hal modal, memiliki banyak keterbatasan. Apalagi, perusahaan baru yang dirintis wirausahawan baru biasanya tidak/kurang bankable.

Apa boleh buat, wirausahawan yang baru pindah kuadran akan pusing tujuh keliling ketika cash flow perusahaan kacau-balau. Hal ini kurang dirasakan ketika bekerja sebagai eksekutif karena berbagai resource — termasuk keuangan — disediakan pemilik perusahaan. Itulah tantangan dunia usaha. Seorang wirausahawan bukan hanya pintar memanfaatkan peluang, tetapi juga dituntut untuk piawai memanfaatkan berbagai resource, termasuk keuangan, sumber daya manusia dan teknologi, setelah berhasil menangkap peluang.

Eksekutif yang pindah kuadran menjadi wirausahawan sama saja dengan ikan yang pindah kolam. Ia akan mabuk sesaat. Ia membutuhkan waktu untuk adaptasi. Sebagian akan mati. Saya sendiri sudah menyaksikan beberapa rekan yang pindah kuadran dengan optimisme tinggi, tapi setahun kemudian ambruk. Namun, yang lolos seleksi berpotensi menjadi wirausahawan yang tangguh. Rekan saya, misalnya, kini menjadi wirausahawan yang memiliki tower seluler begitu banyak di Indonesia. Seorang rekan lain mampu membuat usaha ekspor mebel dan mengelola 600-an karyawan.

Mereka yang lolos seleksi dan tumbuh sehat akan mendapatkan pemandangan yang jauh lebih indah. Persis seperti anak-anak kura-kura yang baru menetas di pinggir pantai dan berebut masuk ke laut. Ada yang mati dimakan binatang lain atau manusia. Namun, yang berhasil masuk ke laut akan tumbuh dan berkelana, menyaksikan indahnya lautan luas, warna-warni terumbu karang, indahnya tarian beraneka ragam ikan, dan kemudian beranak-pinak. Itulah indahnya jika sukses di dunia usaha. Patut disyukuri jika banyak kawula muda yang berani pindah kuadran menjadi wirausahawan.

Jadi wirausahawan, siapa takut?

catatan: artikel saya ini dimuat di majalah SWA edisi Mei 2004, dengan judul sama: Jadi wirausahawan, siapa takut?

Statistik Kegagalan Bisnis, Nyata atau Mitos?

April 5th, 2005 by nulie

Saya quote penuh kalimat pakde Broto pada sebuah milis tentang langkah Ichang yang menjadi usahawan setelah kena PHK: "Mudah2an ia sukses tetapi statistik yang ada ditangan saya bilang, umumnya gagal. Pada tahun 1997-98 banyak temen2 kena phk. Mereka dah uzur untuk cari pekerjaan tetapi kelamaan jadi pegawai. Banyak yang nyoba2 bisnis, 90% gagal. Ada yang lumayan jalan tetapi begitu dapat kerjaan, brukkkk, … bisnisnya ditinggalken. Karena gaji lebih besar dari bisnisnya. Sayang, andai ia telaten mungkin sekarang lebih sukses".

Statistik kegagalan bisnis memang kelihatannya mengerikan. Silahkan saja masukkan keyword "business failure" ke Google atau Yahoo!. Hasilnya? Angka-angka ajaib akan keluar. Kira-kira intinya seperti ini: 90% perusahaan yang dibangun mati muda di tahun pertama. Hanya 70% yang mampu lolos di tahun kedua. Di tahun ketiga, tinggal 50% perusahaan yang mampu bertahan.

Angka-angka mengerikan itulah yang selama ini berhembus ke dunia usaha. Tanpa sadar, tingkat kebangkrutan dunia usaha itu menjadi momok bagi para usahawan pemula. Banyak orang yang akhirnya ragu-ragu masuk ke dunia yang penuh ketidakpastian itu.

Jangan heran jika prosentase pengusaha di berbagai negara (terutama negara terbelakang) amat kecil. Pengusaha merupakan manusia langka.

Setelah saya lacak secara serius, ternyata angka-angka tersebut tidak sahih. Sudah banyak sanggahan mengenai hal ini. Simak tulisan George Gendron yang dimuat di Inc. Magazine, Jan 2001: "Start-ups are risky business. We all know that. Even as you read this, someone somewhere is giving a speech on entrepreneurship and warning that "four out of every five new businesses fail." It’s a statistic that everyone has heard, and most people believe it, especially those who are taking the first steps toward building a company of their own. There’s just one problem: it’s not true. Four out of five new businesses do not fail. While nobody knows the true mortality rate for start-ups, we do know that most survive for at least five years".

Atau, baca tulisan berjudul "Do 90 percent of start-ups really fail to make it past their first year?" di Entrepreneur.com, yang isinya hampir mirip: bahwa tingkat mati muda yang amat tinggi itu cuma mitos belaka. Bukan berarti membuat bisnis baru adalah pekerjaan mudah. Tetap saja berbisnis adalah pekerjaan yang rumit dan penuh risiko. Namun dengan memahami bahwa angka kematian tinggi itu cuma mitos, para calon usahawan tidak perlu dibayangi oleh ketakutan yang semu.

Seorang wirausahawan sejati biasanya abai terhadap angka kematian itu. Pikirannya justru terfokus pada peluang hidupnya, yang meski cuma 10%. Ini mirip dengan risiko penambang minyak. Sudah tahu bahwa peluang mendapat minyak hanya 10%, mereka tetap saja tak kehilangan semangat berburu minyak. Usahawan sejati melihat sesuatu dari sisi peluang. Jika mendapat tes psikologi "gelas" (gelas diisi air misalnya 1/2 dan diminta mendeskripsikan itu) maka ia akan menjawab "gelas berisi separoh air" bukan "gelas kosong separo".

Karena fokus pada peluang hidup itulah usahawan berusaha mempelajari mengapa sampai begitu banyak bisnis mati muda. Sudah begitu banyak ilmu mengenai hal ini. Pada umumnya para peneliti soal kewirausahaan sepakat, penyebab kegagalan adalah lima hal berikut ini: Lack of money, Poor management, Lack of planning, Entrepreneurial ego serta Marketing misjudgments.

Apa maksud kelima hal itu? Nanti saja. Yang penting pada tulisan ini saya ingin membukakan mata bahwa peluang berhasil membangun bisnis baru lebih besar.